Blogger Widgets INTENTS TEMPE GORENG: cerpen

Jumat, 28 Maret 2014

ikhtiar dan tawakkal





Rutinitas  keseharian yang penat dan sangat menjenuhkan. Sebuah kabar  gembira yang kecil, selalu menjadi selingan yang menyenangkan bagi musafir setelah melalui  perjalanan jauh yang melelahkan antara ikhtiar dan tawakkal untuk menjalani tujuan hidup.
Bel sekolah pun berbunyi semua siswa bergegas masuk kelas., diantara ribuan dari mereka salah satunya “Meta”.  Meta adalah seorang gadis dari keluarga sederhana yang ingin mengejar mimpinya dengan proses belajar di SMPN Brawijaya, yang tepatnya dia duduk di bangku akhir. Begitu juga dengan Rani, seorang gadis dari keluraga kaya raya yang ingin mengejar mimpinya dengan proses belajar di SMPN Brawijaya yang tepatnya juga duduk di bangku akhir.
            Senja itu perlahan datang, Rani seorang gadis yang berwajah cantik dengan kebutuhan ekonomi yang dibilang cukup/berkecukupan. Tapi sayang dia memiliki sifat malas, dia beranggapan bahwa semua bisa dibeli dengan uang termasuk sebuah NILAI. Kerjaannya setiap hari hanya chatting dan foya-foya. Tak pernah terbesit dalam ingatannya untuk belajar. Padahal UN telah tinggal satu minggu saja. Ia masih dengan sifat yang seperti itu.
“Pa.... minta uang dong!” pinta Rani.
            “Perasaan kemarin udah dikasih. Butuh berapa kamu?” tanya papanya
            “Lima juta pa..” jawabnya dengan ringan.
            “Lima juta...? untuk apa uang sebanyak itu?” kata papa Rani ( kaget )
            “Iyaa paa, Rani habis ngilangin HP temen Rani. Jadi Rani harus ganti.”  Jawab Rani berbohong.
            “Lain kali jangan seperti itu lagi.”
Papanya kemudian berjalan menuju brangkas tempat biasa papanya mengambil uang. Diraihnyalah uang lima juta itu dan langsung diberikan Rani. Papanya tidak tahu bahwa uang itu akan digunakan untuk membeli kunci jawaban UN mendatang.
Saat dikamar ia tertawa terbahak-bahak ( hahahaha ) ia sangat senang, ia tidak menyangka bahwa dengan mudah dibohongi.


            Berbeda dengan Meta, Kebutuhan ekonomi yang sederhana tak menyurutkan semangatnya untuk terus menggapai mimpinya, menjadi seorang dokter. Dia menjalani hari-harinya dengan penuh percaya diri. Pagi hari ia bersekolah dan sorenya berjualan gorengan dan waktu malam hari ia gunakan untuk belajar.
            Sore itu ibu Meta sedang sakit, Meta memutuskan untuk tidak berjualan gorengan, tapi di satu sisi ia bimbang. Jikala Meta tidak menjual gorengan hari ini, ia tidak akan bisa membeli keperluan Ujian Nasional yang tinggal satu minggu lagi. 
            “Nak.... sudah Mbok nggak papa. Wes sana ndang jual gorengan!” kata si Mbok
            “Tapi bagaimana si Mbok? Si mbok lagi sakit.” Jawab Meta
            Si Mbok cuma pusing. Udah sana , si Mbok nggak papa.

                                   
                                    Kalau kamu tidak menjual gorengan nanti kamu tidak bisa membeli                               perlengakapan ujian.” Kata si Mbok lagi
            “Ya sudah.... do’akan Meta agar gorengannya laku dan cepet pulang buat nemenin si Mbok disini.” Kata Meta seraya memeluk tubuh si Mbok.“Tentu, si Mbok selalu mendo’akanmu.” kata si Mbok
Meta pun bergegas keluar rumah untuk berjualan gorengan.
“Gorengan.... gorengan...” teriak Meta
Satu per satu orang mulai mengerumuni Meta untuk membeli gorengan itu.
            Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Gorengan yang dibawa Meta belum sepenuhnya habis.
“ Ini Mbok uangnya.” Kata Meta sembari menyodorkan uang hasil jualan.
“ Nggak usah simpan aja, buat kamu nduk biar bisa beli keperluan ujian.” Kata si Mbok.
“Tapi Mbok...”
“Ssstt.......udah sana cepat belajar”
“Iya mbok.....”
            Meta pun kembali ke kamar untuk melakukan rutinitas kesehariannya yakni belajar .
Inilah Meta dia tidak  pernah mengeluh sama sekalih bahkan kebanyakaan orang setelah berkerja memutuskan untuk berhenti  sejenak. Tapi  tidak untuk Meta,semangat  hidupnya sangat tinggi.
            Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ujian Nasional adalah penentuan masa depan mereka. Mereka harus bisa memanfaatkan waktu 3 tahun dengan baik. Karena hari ini adalah hari dimana 3 tahun itu berkumpul.
            Dari balik jendela terlihat Meta yang tengah dengan serius mengerjakan soal-soal yang dibuat oleh pihak pemerintah tersebut.
            Di belakangnya nampak Rani dengan ekspresi penuh kemenangan dengan tangan kini membawa secarik kertas berisikan kunci jawaban yang dibelinya kemarin.
Hari ini adalah hari penentuan. Empat hari sudah siswi SMP Brawijaya menempuh Ujian Nasional. Semua siswa merasa lega, waktu 3 tahun telah mereka tuangkan di selembar kertas yang berisi bulatan-bulatan yang harus mereka isi.
            Satu persatu siswa berlari menuju koridor sekolah tempat dimana kertas –kertas hasil UNAS di tempelkan tak terkecuali Meta dan Rani. Mata merka terus menelusuri nama mereka disana dan alangkah bahagianya, Meta ia berada di peringkat 2 dengan total nilai 40,00 saat itu juga ia langsung sujud syukur, tak henti-hentinya bibirnya mengucapkan kalimat tasbh. Air mata dengan deras  jatuh membasahi kedua pipinya.
            Sedangkan Rani ia sampai harus beberapa kali memeriksa apakah itu benar namanya. Disamping nama itu terdapat tulisan kata “LULUS” ia berada di peringkat 1.
            Waktu terus berjalan kehidupan Meta telah berubah ia sekarang telah menjadi seorang Dokter sukses bahkan ia telah mempunyai Rumah Sakit sendiri. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah mewah di daerah tersebut.
            Berbeda dengan Rani, ia menjadi seorang pengangguran. Tak ada satupun jenis pekerjaan yang cocok dengannya.
            Dari sini kita bisa melihat. “Sebuah ikhtiar dan tawakkal sangat dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang nyaman.”

by: Istiadah Bilkhoir

Rabu, 26 Maret 2014

KENANGAN TERINDAH


Ku mulai bosan dengan semua ini, hampir empat bulan terakhir ini aku mendengar keributan kedua orang tuaku ang setiap harinya tidak mereda, malah membakar keduanya dan aku pusing mendengar tangisan adikku yang tak dihiraukan oleh kedua orang tuaku.
Aku muak dengan semua ini, aku ingin meredamkan pertengkaran ini dan memadamkan api emosi  yang bergejolak di hati kedua orang tuaku.
Kini, ku kuatkan hatiku untuk memisah keduanya dan sudah ku tekadkan bulat-bulat. Tapi, itu semua aku urungkan karena papa memukul mama hingga terjatuh dan kepala mama terbentur keras ke ujung meja sampai pingsan. Dan saat itu juga, aku menjerit sekeras-kerasnya hingga papa menoleh ke arahku. Tanpa pikir panjang lagi aku lari ke luar rumah, walaupun hujan deras didepan mata. Papa mengejarku dan terus memanggil namaku di tengah malam yang sedang hujan deras. Aku tak menghiraukan panggilan papa. Aku terus berlari dan berlari, walaupun papa sudah tidak mengejarku lagi. Aku berharap hujan ini melunturkan ingatanku tentang semua kejadian empat bulan terakhir ini.
 



Kuhentikan langkahku karena di seberang sana ada bangku taman yang meninggalkan sejuta kenangan terindah bersama keluarga kecilku. Ku berdiri mematung melihat bangku tersebut mengenang kehidupanku pada waktu yang sudah lama dan banyak kebahagiaan tanpa ada konflik. Kucoba untuk tersenyum walaupun tak bisa, kini kucoba untuk melangkahkan kakiku menuju bangku tersebut,dengan tenaga yang masih tersisah ini perlahan sampai dan aku menyentuh bangku tersebut dengan perlahan. Ada perasan yang bercampur aduk didalam hatiku antara marah, bahagia, sedih,bingung. Dan sekarang hujan mulai mereda, butiran-butiran bening telah menganak sungai di pipiku yang mulai pucat karena kelamaan terkena air hujan. Tiba-tiba ada sentuhan lembut yang mendrat di pundakku. Aku terperanjat kaget , aku beranikan untuk menolehnya dan ternyata ada seorang pria tampan yang berdiri dengan gagagnya di sampingku. Aku heran mengapa tengah malam gini ada orang yang masih ada di taman kota dan siapakah dia aku belum pernah bertemu dia di sekitar sini.”kenapa kau sendirian di sini tengah malam hai manis” dia memecah keheningan yang ada diantara kita “a......ku......ehhhhh” aku tergagap tak bisa melanjutkan kata-kataku “mengapa kau tergagap, jika kau ingin bicara maka bicaralah jangan dipendam sendiri” setelah mengatakan kalimat tersebut dia duduk disebelah ku dan mendekatkan badannya kepadaku dengan reflek aku menjauhkan diriku     darinya.”ja...ng......an.......men.....men...dekatiku, ka.....mu si....apa ?” seruku. “siapa aku itu tidak penting yang terpenting adalah kenapa kamu disini tengah malam begini sendirian dan menangis, ceritalah jangan sungkan”jawabnya, aku semakin bingung dengan semua ini. Dan memberanikan diri aku bertanya”apakah kamu ini seorang malaikat yang datang untuk menolongku?” tanyaku dengan polos. ”iya aku datang untuk menolongmu dan mendengarkan ceritamu, jadi kamu jangan takut kepadaku” ujarnya. Tak pikir panjang lagi dan tanpa keraguan sedikitpun aku cerita semua masalah ku selama 4 bulan terakhir ini. Setelah ceritaku selesai,ia malah menertawakanku betapa takutnya aku melawan sebuah masalah tersebut. “haahaahaaa jadi seperti itu masalahmu, dulu aku juga merasakan hal yang sama seperimu tapi aku lebih parah daripada kamu”. Sekarang dia tampak tak seceria tadi, yang ada hanya sebuah kesedihan tampak di raut wajahnya. Keadaan menjadi hening aku bingung bagaimana memecah keheningan ini. “Maaf telah mengingatkanmu” hanya itu yang terucap dari bibirku dan menundukkan kepala. “Tidak apa-apa kok kan aku disini untuk menolongmu memecahkan dan mencari titik temu permasalahanmu itukan”. “Tapi kamu.......” ia memotong kataku “udahlah jangan diperpanjang lagi, dan sekarang bagaimana keadaan ibumu”. “aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang dan aku tak berani pulang”. ”Pulanglah beranikan dirimu untuk menyadarkan kedua orang tuamu, atas apa yang dilakukannya tidak berdampak pada mereka saja tapi pada anak-anaknya juga” aku menggeleng menandakan kalau tidak mau. “Kenapa ? apa aku antarkan saja gimana?” tawarannya. “tidak, aku tidak mau” tolakku, “jika kamu tidak mau bagaimana bisa reda masalahmu itu. Ayolah jangan seperti aku, yang meyesal diakhirnya” raut wajahnya berubah drastis menjadi kecewa atas penolakanku itu. Sedikit ada keraguan, aku pun mengiyakannya, tapi ada sedikit keganjalan dihatiku kenapa dia terus membujukku untuk menyelesaikan masalahku dan apa hubunganya semua itu padanya, aku semakin bingung. Tanpa persetujuan ku, dia menarik tanganku untuk bangun dan menuntunku pulang ke rumah. Aku ingin memberontak tapi tak bisa karena genggamannya terlalu kuat. “dimana rumah mu ?”tanyanya, seperti terhipnotis aku punmenjawab”disebelah rumah sakit belok keutara”. Saat itu hatiku bergetar sangat kencang ”ada apa dengan diriku ini?“ Tanyaku  dalam hati. Saat itu waktu terasa lambat sekali dan aku merasa tenang berada di sisinya, tapi itu tak berlangsung lama setelah ia mengatakan “kita sudah sampai di depan rumah mu”, aku langsung terperanjat mendengar kalimat itu. “oke sekarang kamu ngomong baik-baik pada kedua orang tuamu dan selesaikan dengan baik”setelah mengatakan itu ia berpamitan pulang serta memberikan sedikit semangat untukku. Dengan sedikit modal keberanian aku mengetuk pintu rumah, sesaat kemudian muncul sosok wanita paruh baya dan jidatnya ada plaster bergambar mikiy mouse, ia adalah mamaku yang sangat aku sayangi. Aku langsung memeluknya, tanpa kusadari ada seseorang yang tengah berdiri dibelakang mama, dia adalah papa yang sangat aku benci karena telah melukai mama. Tanpa banyak bicara aku langsung melepaskan pelukan mama dan menujudimana tampat berdirinya papa, tanpa ada kata-kata akupun langsung memukul papa tanpa ampun. Ternyata papa meneteskan air mata dan langsung memeluk ku sambil berkata”maafkan papa karenau tidak bisa menjadi ayah yang baik dan papa berjanji tidak akan mengulanginya lagi “ , ”apakah itu janji yang akan di tepati? papa tidak akan mengulanginya lagi kan” jawabku dalam isak tangis “ya ,pdapa akan menepatinya”mendengar kata papa, hatiku menjadi luluh
 



Dua hari kemudian…………
Sekarang keluargaku seharmonis dulu, tidak ada masalah sedikitpun. Dan sekarang aku ingin menemui dia, si malaikat yang memberiku semangat untuk bisa menyelesaikannya. Kemudian aku menuju taman kota berharap aku akan bertemu malaikat itu dan akan ku ucapkan terima kasih kepadanya. Sekian lama aku menunggunya ternyata ia tak kunjung datang. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari tempat ini tanpa ada hasil apapun. Langkah ku berhenti tepat di depan halte, beberapa saat kemudian ada sebuah bis berhenti tepat di depanku. Tanpa pikir panjang lagi karena terlalu capek menunggu, aku langsung naik dan berharap cepat sampai dirumah. Aku memilih duduk di pinggir jendela dengan melihat taman itu terakhir untuk hari ini. Saat ku mulai duduk dan melihat jendela ternyata ditaman tempat ku duduk tadi ada malaikat itu yang sedari tadi aku tunggu-tunggu. Ternyata dia ada dibelakangku, aku ingin menyusulnya ternyata dia berbalik badan dan pergi sedangkan bis yang aku tumpangi telah pergi menjauh. Aku ingin sekali untuk mengatakan terima kasih untuk terakhir kalinya tapi mengapa dia sulit sekali untuk ditebak. Dan kuingat sekilas tentang kata-katanya bahwa”segala macam masalah pasti ada jalan keluarnya dan jangan takut untuk menghadapinya” aku berjanji pada diriku sendiri bahwa kata-katanya akan selalu kuingat selamanya dan kukenang dalam hatiku. Dan itu akan menjadi kenangan terburuk serta terindah bagiku. Aku senang telah mengenalmu malaikat penolongku terima kasih untuk semuanya.

SEKIAN
                      By : Sa’adatun Nisa’


Selasa, 25 Maret 2014

Ketika waktu telah berlalu

Aku memandangi kamar ini untuk kesekian kalinya. Yang tergambar dalam benakku sangatlah jelas dan tidak berubah. Aku teringat kenangan-kenangan bersamanya, kenangan yang tak akan aku lupakan begitu saja. Aku teringat bagaimana ia selalu ada di sampingku saat senang maupun susah, karena ia selalu mengerti bagaimana membuatku tersenyum.

Aku seperti dihantam sesuatu. Aku tahu, ini menyakitkan, tetapi aku harus kuat sebagaimana ia berpesan. Ya! Aku tidak akan lagi bertemu dengannya, dihibur olehnya. Bayangan singkat kehidupanku dengannya kembali tergambar jelas, seperti di depanku terdapat sebuah proyektor yang menampilkannya.
Ketika Waktu Telah Berlalu
Bayangan itu membawaku ke saat-saat dimana aku dan dia pertama kali berkenalan saat aku keliru menaruh barang-barangku di dalam lokernya. Dia tertawa, aku tertawa. Aku menanyakan namanya dan dia menanyakan namaku. Pada saat kenaikan kelas, kami memasuki kelas yang sama.

Kami semakin akrab dengan tempat duduk kami yang diatur berdekatan. Baru aku tahu saat itu bahwa rumahku dan rumahnya hanya berbeda beberapa gang. Ia pun tidak jarang datang ke rumahku untuk mengerjakan tugas. Aku ingat sekali bagaimana saat itu, kami tidak mengerjakan tugas melainkan ke taman dan mengukir nama kami berdua pada sebatang pohon. Kami menambahkan ‘Best Friend Forever’ di bawah nama kami.

Saat lelaki yang sedang kusuka berpacaran dengan perempuan lain, ia menghiburku, merangkulku dan melontarkan candaan-candaan yang membuatku tertawa. Ia tahu apa yang kurasakan walaupun aku tidak mengatakannya. Ia bahkan tahu lelaki yang kusuka walaupun aku tidak pernah menceritakan apapun kepadanya. Ialah yang menjadi alasan mengapa aku dapat kuat hingga detik ini.

Bayangan itu dengan segera berganti ke saat-saat dimana aku sangat panik karena melupakan tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Aku menelponnya, dengan harapan ia dapat menenangkanku. Ternyata benar, ia menenangkanku dengan datang ke rumahku dan membantuku membuat tugas hingga selesai, padahal saat itu hari sudah gelap dan kami menyelesaikannya tepat pada saat ayam berkokok pertama kali. Di sela-sela mengerjakan tugas, ia juga sabar mendengarkan cerita-ceritaku tanpa kuberikan kepadanya kesempatan sedikit pun untuk berbicara.

Aku kembali menyapukan pandanganku dan melihat satu lembar tiket konser Miley Cyrus, penyanyi luar Indonesia yang paling kami kagumi. Aku mengambilnya dan lagi-lagi pikiranku dipenuhi oleh bayang-bayang. Saat itu, kami duduk di kelas 2 SMA dan sedang menjalani ulangan akhir semester I, lalu kami mendapat kabar bahwa Miley Cyrus akan mengadakan konser di Jakarta. Kami sangat senang sekaligus bingung bagaimana caranya untuk menonton konser tersebut, karena pastinya kami tidak diizinkan.

Aku ingat sekali bagaimana kami menyusun rencana hingga akhirnya kami mendapatkan kesepakatan. Kami pun membeli tiket konser tersebut dengan uang hasil tabungan kami. Tetapi saat hari konser, entah dorongan darimana, aku mengubah rencana dan bersikeras untuk tetap menjalankan rencana yang kubuat. Ia pun dengan sabar menyetujuinya dan kami menjalankan rencana yang kubuat.
“Kau mau ke mana?” tanya papaku saat itu.
“Aku mau ke rumah Iva, Pa.”
“Jangan bohong, Ta, tadi waktu papa ke luar, papa lihat Iva dengan tasnya, kelihatannya dia mau pergi. Papa tahu kau merencanakan sesuatu.”

Begitulah pada akhirnya, karena aku, kami tidak jadi menonton konser Miley. Aku tahu, Iva sangat marah kepadaku. Aku tahu, ia akan benci sekali padaku dan tidak akan percaya pada kata-kataku lagi. Atau mungkin, itu hanyalah perkiraanku.

Nyatanya, setelah kejadian itu, ia tidak menyinggung kesalahanku. Ia malah menguatkanku karena ia tahu bahwa sebenarnya aku sangat ingin menonton konser tersebut.
“Ta, sabar ya! Nanti setelah ulangan akhir ini kita cari-cari konser Miley lagi, sampe ke luar kota pasti dibolehin kok! Sekalian liburan, sekalian nonton konser.”

Ia sama sekali tidak menyalahkanku. Ia sama sekali tidak mencoba untuk mengguruiku. Aku sangat bahagia telah mengenalnya.

Tetapi aku tidak menduga, bahwa kata-kata yang ia janjikan padaku tidak akan pernah ditepatinya. Bukan, bukan karena ia tidak mau, tetapi keadaan telah sepakat untuk menyiksanya.
“Ta, aku harus pergi ke Singapore, aku harus berobat ke sana. Aku sakit, kanker otak.”
“Kamu pasti bercanda…”
“Aku serius. Tetapi, aku akan berusaha untuk kembali ke sini, kok. Aku janji kita bisa ketemu lagi.”

Sejak kepergiannya, kami rutin bertukar e-mail, sekedar menanyakan kabar hingga bercerita yang macam-macam. Saat itu sangat menggembirakan, hingga aku menyadari bahwa waktu sangat berharga. Aku tidak tahu kapan kami akan berpisah. Aku tidak menanyakannya karena aku tahu, itu semua hanya akan memperburuk keadaan. Biarlah hari demi hari berlalu, dengan matahari yang masih menerangi bumi. Biarlah jarak mengambil alih, karena aku tahu, semua akan indah pada waktunya.
“Ta…”

Kudengar seseorang memanggil namaku, seseorang dengan suara bariton yang khas. Mario, kakak laki-laki Iva yang belakangan menjadi sahabatku, lebih dari sahabatku lebih tepatnya. Ia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Ia pun sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri setelah ia kehilangan Iva.

Aku tahu, di antara kami, orang-orang terdekat Iva, kakak laki-lakinya-lah yang paling kehilangan, karena ia dan Iva telah bersama sejak kecil. Mario, kakak yang tegar dan selalu menemani Iva saat ia berobat. Mario, kakak yang setia sampai-sampai ia pindah kuliah ke Singapore untuk mendampingi Iva dalam menjalani masa kritisnya.

Aku tidak habis pikir, seseorang sebaik Mario harus menjalani cobaan yang begitu berat. Apakah ketidakadilan di dunia begitu kentalnya sehingga harus menyiksa semua orang yang benar dan menyenangkan semua orang yang salah? Apakah mungkin balasan untuk semua orang benar akan diterima setelah mereka mendapatkan kehidupan yang kekal? Kuharap begitu.
“Ta, kangen sama Iva?” kata Mario mencegah pikiranku untuk berkelana terlalu jauh.

Aku hanya tersenyum, mewakili perasaanku sebenarnya.
“Relakan dia, jangan jadikan kepergiannya sebagai beban dalam hidup. Yakinlah, ia sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik di atas sana, bagimu, bagiku, bagi semua orang yang disayanginya. Ia telah sampai di ujung dunia, Ta. Bila saatnya tiba, kita juga akan sampai di sana dan kembali bertemu dengannya. Aku yakin, saat sampai di sana, persiapannya telah selesai. Kau akan menemukan apa yang kau butuhkan, sahabat, keluarga, saudara, dan semuanya abadi, selamanya.”

Aku kembali tersenyum dan membiarkan diriku dirangkul oleh Mario.
“Kak, aku boleh minta sesuatu?”
“Tentu.”
“Jangan pernah tinggalkan aku, ya…”

Mario tersenyum dan perasaanku tenang seketika. Saat itu juga aku sadar, hidupku dikelilingi orang-orang yang baik, karunia dari Tuhan. Dalam hati, aku bertekad untuk memulai hidup yang baru, lembaran pertama dalam sekuel buku yang berjudul kehidupan. Lembaran pada buku pertama telah terisi sampai lembaran terakhir, dipenuhi tentang kenanganku dengan Iva. Saat ini, aku siap memulai lembaran baru pada buku yang baru, dan aku sudah tidak sabar, apa yang akan kuhadapi setelah ini. Aku akan menjalani lembar demi lembar dengan sikap yang baru, Tata yang telah berubah.

By : Firda Mashlichatul Chasanah

Sabtu, 22 Maret 2014

Mungkinkah Engkau Masih Hidup?




             ‘’Tidak ada gunanya mempunyai ayah menjadi kepala negara,bajunya bertambal seribu”ejek teman teman anak Umar.Karena sudah tidak tahan dengan ejekan teman temannya,anak Umar itu pun mengadu pada ayahnya.Khalifah Umar sangat kasihan kepada anaknya yang mengadu itu,tapi beliau tidak dapat berbuat apa apa.
             Maklumlah,beliau tidak    mempunyai   simpanan apa apa,sedang gajinya sebagai kepala negara hanya 1 dirham saja sehari dan ketika itu belum sampai masa gajian.Umar pergi ke Baitul Mal untuk meminjam sedikit uang dan berjanji akan membayarnya pada awal bulan apabila sudah menerima gaji.”Bukan saya tidak mau mengeluarkan uang Baitul Mal,tapi apakah Amirul Mukminin sudah yakin masih akan hidup sehingga bulan depan?Dan jika Amirul Mukminin mati sebelum sampai masa gajian yang akan datang,siapa yang akan membayarnya?kata petugas Baitul Mal.
        Mendengar itu,menangislah Khalifah Umar bin Khattab sehingga air matanya menetes membasahi pipinya.Beliau tidak jadi meminjam uang dan pulang dengan perasaan sedih sambil mengenang kematian.

posted by Athik Kholishotin AS

Cerpen Cinta dan Dongeng




“Kringggg.....!!!”

“Assalamualaikum”. Pesan baru dari Handphone ku, tertulis salam dari pengguna nomor baru. Dan ku jawa “Waalaikumsalam....”.

“Ini maya ya....?”, balasan sms pun datang menjawab salamku.

Langsung ku balas “Iya. . .ini me, ne spa ya?”, pesan singkat ku lontarkan kembali kepada pemilik nomor baru dalam Handphoneku.

Panggilan masuk pun berdering lewat Handphone ku dengan nomor baru itu. Ku jawab salamnya dan pembicaraan pun berlangsung dengan ku. Pemilik nomor baru itu adalah seorang pria yang bernama Andi. Dia mendapatkan nomor teleponku dari Abang angkat ku yang ku kenal baik selama ini.

Perkenalan baru yang bermula lewat Handphone membawa aku dan dia akrab. Saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, bercanda bersama meski lewat Handphone.

Pertemuan pun kami rencanakan di rumahku yang sederhana. Di malam yang cerah dia datang bersama seorang teman yang menemaninya.

“Assalamualaikum. . . .?” terdengar dari luar pintu rumahku seseorang mengucap salam seraya mengetuk pintu rumahku.

“Waalaikumsalam. . .” jawabku sambil ku buka pintu rumahku.

Seraya tersenyum sopan, seorang pria berdiri di hadapanku sambil bertanya kepadaku, “Benarkah ini rumahnya Me?” tanyanya singkat.

“Ya  benar, , , Anda siapa dan ada perlu apa dengan saya?” ku jawab pertanyaannya sambil ku lontarkan pertanyaan balik kepadanya.

“Saya Andi yang menelpon Kamu tadi” jawabnya singkat.

“Oh. . . Bang Andi itu ya. . .?? hmmm. . . . ayo silahkan masuk, kirain siapa tadi.” Jawabku sambil menyuruh dia dan temannya masuk kedalam rumah.

“Silahkan masuk dan silahkan duduk,” ku persilahkan lagi kepadanya.

“Iya. . . terima kasih,” seraya berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah ku.

“Sebentar ya. . .!!” jawabku sambil ku tinggalkan mereka sejenak di ruang tamu, ku bergegas pergi ke dapur dan membuatkan 2 gelas teh manis panas dan ku persilahkan kepada mereka.

“Diminum tehnya, , , tapi masih panas sangat,” kataku basa-basi.

“Iya terima kasih, , , “ jawab mereka.

“Gimana. . . susah ya nyari alamat rumah Me?”, tanyaku membuka suasana yang hening.

“Iya. . . sempet juga nyasar tadi, soalnya belum pernah main-main ke daerah sini,” balasnya.

“Ya. . . begini lah keadaan rumah Me,”

“Hmmm. . . sunyi ya disini, kemana semua keluarga Me?” tanya nya kepadaku.

“hmmm.... kalau bapak sama mamak Me lagi di kamar lihat televisi, adik Me yang pertama lagi keluar latihan main Band, kalau adik Me yang kedua lagi lihat tv di ruang tengah, sedangkan kedua kakak Me udah berumah tangga mereka udah tinggal di rumah mereka masing-masing,” jawabku menjelaskan.

“Oo. . . kirain pada pergi, soalnya sunyi sih rumahnya.” Katanya balik.

Aku yang memang terkenal mudah bergaul dengan orang laen dengan mudah bisa membawa suasana menjadi ramai dan tidak terasa canggung dalam berbicara meskipun baru pertama kali bertemu. Pembicaran dan canda tawa di ruang tamu membawa kami lupa bahwa kami baru bertemu, seakan udah lama sangat berkenalan. Nah, , , itu lah sifat pribadi Me yang mudah membaur dengan orang laen. Tak terasa waktu udah menunjukkan jam 11 malam. Dia dan temannya permisi buat pamit pulang.

“Berhubung sudah malam, kami pamit pulang dulu ya, laen waktu bolehkan kami main ke rumah Me lagi,? Tanyanya kepadaku .

“Boleh saja atuh bang, , ,” jawabku dengan gaya bicaraku yang terbilang unik, yang mencampurkan bahasa daerah laen.

“Ya udah kalo begitu, , , Assalamualaikum Meme?” kami pamit pulang, katanya kepadaku sambil bergegas pulang.

“Waalaikumsalam bang, , ,” jawabku.

Ku bersihkan ruang tamu ku yang tadi berantakan. Saat selesai ku bersihkan lalu ku rebahkan tubuhku di tempat tidur. Tak lama Handphoneku berdering. Sebuah panggilan masuk dari bang Andi. Ku perhatikan sejenak, lalu ku angkat segera teleponku.

Mei :”Hallo Assalamualaikum Bang.....?” sapaku lewat Handphone.
Bang Andi :”Waalaikumsalam Meme. . .” balasnya.
Mei :”Ada apa bang, , ,? Apa ada yang tertinggal di rumah Me?” tanyaku heran, karena baru saja mereka beranjak pamit pulang, kemudian Handphoneku berdering.
Bang Andi :”hmm. . . nggak ada apa-apa kok, Cuma pengen ngobrol aja neh sambil makan...”
Mei :”Oo. . .kirain ada yang tertinggal di rumah Me, , eh rupanya. . .rupanya. . .”
Bang Andi :”Heeee. . . nggak apa kan Mei, Bang nelepon neh?”
Mei :”nggak apa atuh Bang. . .”
Bang Andi :”Ternyata bener ya. . . nggak dari Handphone maupun jumpa langsung, Meme ananknya enak kalau di ajak ngomong gitu, mudah akrab orangnya,”
Mei :”Heeee. . . begini lah Me, Bang, orangnya”

Pembicaraan yang bisa di bilang ya. . . seperti orang-orang pada umumnya, membawa keramahan tersendiri bagi siapa yang mengenal diriku. Terkesan tomboy, tapi paling asyik jika diajak bicara. Semenjak perkenala itu, kami semakin akrab dan semakin sering bertemu. Hingga pada akhirnya membawaku untuk menemaninya menghadiri sebuah acara pernikahan temannya. Aku yang biasa tampil dengan gaya ku sendiri kini ku hadir dengan balutan gaun putih dengan rambut yang sengaja ku tata beda dengan high heel senada dengan gaun yang ku kenakan. Mungkin yang biasa melihat aku bergaya tomboy, sekarang bisa menjadi cewek feminim yang benar-benar beda di malam acara tersebut. Tak dipungkiri juga, dia yang biasa melihat aku langsung gak percaya saja melihat aku yang sekarang ini.

Bang Andi :”Waw, , , , I like it’s. . .”

Mei :”hmmm. . . apa sihh. . . Jangan diliatin terus, Me jadi gak PeDe atuh” jawabku dengan muka malu.

Bang Andi :”Ngapain malu. . . beneran lo. . . I Like this. . . sumpah beda banget lo” jawabnya memujiku.

Mei :”Udah ach. . . jangan komen terus, , ,buruan kita pergi ntar kemalaman “, pintaku.

Bang Andi :”Ya udah yuk . . . tapi entar dulu, Bang pamitan dulu sama orang tua Me,”


Mei :”Silahkan bang, , , tuh mama ada kok di ruang tengah”

Dalam perjalananku menuju tempat dimana acara itu di gelar, banyak pembicaraan yang kami lontarkan. Tak khayal sebuah komentar perubahanku. Dari pertanyaan dan pertanyakan ku menjelaskan bagaimana diriku ini.

Mei :”Ya, , , seperti bang lihat sekarang ini, Me yang biasanya tampil apa adanya dengan gaya tomboynya Me, sebenarnya Me bisa tampil dengan gaya feminim seperti saat ini, Cuma Me kadang-ladang aja kayak gini, bisa di bilang jika ada iven-iven kayak gini neh, Me kadang menyesuaikan keadaan sekitar Me, bagaimana berpakaian saat bekerja, di rumah, kumpul dengan teman, atau pun pergi ke pesta,” kata ku menjelaskan panjang lebar dengan nya.

Bang Andi :”Tapi beneran. . .Bang jadi PeDe kalau seperi ini, beda banget lo Me malam ini, sungguh I Like it banget lo.”
Mei :”Ya makasih bang.”

Akhirnya tiba di tempat dimana kami tuju. Setiba di sana aku merasa nggak enak banget di lihati oleh para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut. Aku sampai berpikir kalau ada yang salah dengan diriku hingga banyak yang melihat aku di malam itu. Tapi dia menyakinkan k kalau gak ada yang salah dengan diriku, itu karena aku tampil beda dengan lainnya. Mendengar ucapannya kepadaku, aku berusaha nyantai membawa suasana seperti itu. Dan sukses juga acara menemani dia.

Perkenalan yang singkat itu akhirnya menumbuhkan rasa di antara kami berdua. Tak bisa di tutupi lagi, cinta pun tumbuh diantara kami. Hari demi hari kami lalu, semakin lama semakin dekat. Walau kadang kami tidak sesering bertemu, percakapan lewat Handphone juga bisa mendekatkan kami jauh lebih dekat ketimbang terus  bertemu muka.

Saling mengerti, saling mengingatkan, saling percaya kami patokan dalam hubungan kami. Keterbukaan satu sama yang lain juga kami lakukan dengan sikap dewas. Hingga keseriusan di antara kami ada.

Saat dia kerja, dan mengharuskan dia tak bisa bertemu denganku, ku menghargainya. Kami saling mengingatkan satu sama yang lain agar selalu dekat dengan Yang Maha Esa. Itu lah satu poin dimana aku bisa mencintainya, selain aku bisa deket dengan cintainya, aku juga bisa mendekatkan diri dengan Yang Maha Esa.

Tapi di perjalanan cintaku selalu tak semulus dengan hari-hariku yang ku lewati dengan senyum ceria dan semangat. Aku harus merasakan rasa sakit hati kembali dengan yang namanya Cinta. Pertemuan dan hubunganku tak secerah awan dan ibarat umur, hanya seumur jagung. Tanpa alasan yang pasti, ku harus melepaskan cintaku yang telah bersamaku untuk orang laen. Sungguh cinta yang katanya indah, kini bagai dongeng di saat malam tiba, dimana yang katanya indah tidak bisa aku rasakan. Kini diriku tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini, ku harus bisa menjadi aku sebelum atau pun sesudah nya, aku adalah aku. Semogga Allah selalu menuntunku dan memberikan ku kesabaran dalam menjalani kehidupan aku ini.

created : Maya Winandra nova
e-mail :Mayawinandranova@yahoo.co.id
Posted by : Aslahah Baladinah R